Kamis, 28 Maret 2013

“Kain Timor” Kain Tradisional Kab. Sorong Papua Barat

Sejarah Masyarakat Indonesia sejak dulu telah mengenal dan menggunakan kain tenunan. Tiap-tiap corak atau ragam hias antara satu suku bangsa dengan suku bangsa lain berbeda, disebabkan oleh karena lingkungan alam dan lingkungan sosial budaya tiap suku bangsa berbeda-beda pula. Begitu pula dengan masyarakat Sorong, terutama masyarakat Moi yang juga telah lama mengenal dan menggunakan kain Tenun Timor. Hal ini disebabkan oleh adanya kontak dengan beberapa masyarakat luar pada waktu lampau. Sejak saat itu Kain Timor mulai diterima dan menggantikan peranan kain kulit kayu dalam aktivitas sosial budaya. Hubungan keterkaitan masyarakat Sorong dengan Kain Timor dapat dilihat dalam aktivitas sosial budaya antara lain kegiatan perkawinan di mana kain timor digunakan sebagai alat pembayaran mas kawin, aktivitas ekonomi, di mana kain timor digunakan sebagai alat pembayaran atau alat tukar-menukar dan aktivitas lainnya. Pada umumnya masyarakat di daerah kepala burung menganggap kain timor merupakan barang yang sangat berharga, antara lain suku May Brat yang menjadikan kain timor “bo” sebagai alat pembayaran mas kawin, membayar denda, atau keperluan lainnya.
Menurut cerita orang Moi; ”bahwa pada suatu hari yang cerah Moyang Walungkyam galus pergi kedaerah muara sungai Kalawilik memacing ikan, saat sedang memancing terasa ada sesuatu yang mengenai pancingnya, kemudian Walungkyam mengangkat pancingnya tinggi-tinggi, namun ia tidak berhasil mendapatkan apapun, hal ini terulang untuk kedua kalinya. Untuk ketiga kalinya Walungkyam memancing dan terasa ada sesuatu yang memakan umpannya, ia menarik kailnya terasa sangat berat di kira ikan besar yang didapat ternyata yang ia tarik Kain timor ( Toba Mele) kelas pertama. Setelah mendapatkan kain timor, galus tetap memancing sebanyak 10 kali, selama itu ia berhasil memperoleh 10 jenis kain timor. Karena hari mulai gelap ia pulang kerumah. Pada keesokan harinya galus pergi memancing lagi, saat memancing ia mendapatkan putri sungai/putri kayangan yang memakan umpannya, nama putri itu Dewi Klasus yang artinya dewi raja sungai. Kemudian galus dan Dewi Klasus mengikat tali persahabatan yang ditandai dengan Kain timor. Kain timor yang Galus dapatkan hari pertama adalah milik Dewi Klasus. Dalam hubungan persahabatan tersebut terjalin hubungan cinta, yang disalurkan lewat hubungan biologis. Pada suatu hari mereka bertemu di tempat yang sama untuk saling berdiskusi, saat dewi klasus tiba-tiba menangis keras-keras, entah apa yang terjadi? Mungkin Galus telah menggugurkan embun madunya. Hari-hari berikutnya galus pergi ke sungai tetapi tidak menemukan Dewi klasus. Setelah kejadian tersebut, maka hubungan antara galus terputus karena Dewi Klasus mengusirnya, dari sungai Kalawilis dan mengatakan bahwa ia hanya mendapatkan sebagian kecil dari kain timor (mele toba). Oleh karena itu masyarakat Moi hanya menerima sebagian kecil kain timor saja dan tidak mengerjakannya”. Sejarah Kain Timor masuk ke daerah kepala burung pulau Papua berkaitan dengan sejarah kontak ekonomi di antara sesama Orang asia, khususnya dalam masyarakat Indonesia, serta pengaruh orang eropa di Indonesia dalam abad Ke XIV – XVI menyebutkan : bahwa pada abad ke 14 sampai 16 kain timur memegang peranan utama sebagai alat transaksi perdagangan di daerah Asia bagian barat (India, Bengalis, Bangladesh, Burma, Gujarat dan China). Pada abad yang sama di bagian timur Indonesia rempah-rempah dan kayu cendana memegang peranan utama sebagai alat pembayaran transaksi perdagangan, sedangkan pada saat yang sama di daerah India tenggara tidak ada pasar yang digunakan untuk melakukan transaksi hasil industri tenunan (kain-kain tenun sutra/tekstil). Pada abad ke 16 Indonesia terkenal sebagai daerah yang kaya raya dengan hasil rempah-rempah dan kayu cendana, sehingga terkenal dengan istilah “ Intren-Asian Commercial relation till” (hubungan perdagangan di asia timur yang ramai). Pada abad ke 16 semenaNjung malaka di jadikan sebagai pusat perdagangan antara timur dan barat, dimana terjadi transaksi perdagangan antara barat dan timur, sehingga terjadi pertukaran komoditi dimana dari Asia Barat, komoditi kain timur dan barang-barang keramik di tukar dengan komoditi rempah-rempah dan Kayu cendana dari Indonesia timur. referensi: Yudha N. Yapsenang, Inventarisasi Kain Tenun Timur di Sorong, Makalah Seminar BPSNT Jayapura, 2009

Tidak ada komentar:

Posting Komentar